Apa Hikmah dan Tujuan Melaksanakan Aqiqah untuk Anak?
Kelahiran seorang anak merupakan nikmat besar bagi sebuah keluarga. Dalam Islam, salah satu amalan yang disyariatkan berkaitan dengan kelahiran tersebut adalah aqiqah.
Namun, aqiqah bukan sekadar tradisi keluarga atau acara untuk menyambut bayi. Di dalamnya terdapat unsur ibadah dan rasa syukur kepada Allah atas karunia seorang anak.
Lalu, apa hikmah dan tujuan melaksanakan aqiqah untuk anak?
Aqiqah sebagai Bentuk Syukur kepada Allah
Salah satu makna utama aqiqah adalah mensyukuri nikmat kelahiran anak.
Rumaysho menjelaskan bahwa aqiqah merupakan hewan yang disembelih dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran anak yang diberikan Allah, baik anak laki-laki maupun perempuan.
Dengan demikian, aqiqah tidak semata-mata dipandang sebagai jamuan makanan.
Ada ibadah yang menjadi inti di dalamnya.
Orang tua mendapatkan amanah baru berupa seorang anak, kemudian mengungkapkan rasa syukur tersebut melalui amalan yang telah disyariatkan.
Aqiqah Merupakan Ibadah yang Disyariatkan
Aqiqah termasuk amalan yang disyariatkan dan menurut penjelasan Rumaysho merupakan sunnah bagi orang tua yang mampu.
Karena itu, tujuan aqiqah tidak tepat jika hanya dilihat dari sisi sosial atau kebiasaan masyarakat.
Ada unsur taqarrub kepada Allah, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah yang dilakukan karena kelahiran anak.
Inilah yang membedakan aqiqah sebagai ibadah dari sekadar menyelenggarakan pesta kelahiran.
Mengungkapkan Kebahagiaan atas Kelahiran Anak
Kelahiran anak membawa kebahagiaan bagi orang tua dan keluarga.
Aqiqah menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur dan kebahagiaan tersebut.
Keluarga dapat berkumpul, mendoakan anak, serta berbagi makanan dengan orang-orang di sekitarnya.
Dengan begitu, kebahagiaan atas kelahiran anak tidak hanya dirasakan oleh orang tua, tetapi juga dapat dibagikan kepada keluarga dan masyarakat sekitar.
Aqiqah Memiliki Nilai Berbagi
Hidangan aqiqah dapat dibagikan kepada orang lain.
Inilah salah satu nilai sosial yang mudah terlihat dalam pelaksanaan aqiqah.
Makanan dapat diberikan kepada:
- Keluarga.
- Kerabat.
- Tetangga.
- Teman.
- Orang yang membutuhkan.
NU Online juga menjelaskan bahwa aqiqah memiliki hikmah sosial berupa berbagi kebahagiaan dengan kerabat, tetangga, dan fakir miskin melalui pembagian daging aqiqah.
Jadi, aqiqah tidak berhenti pada hubungan antara orang tua dan anak. Ada kesempatan untuk mempererat hubungan dengan orang-orang di sekitar.
Mempererat Hubungan Keluarga dan Tetangga
Ketika makanan aqiqah dibagikan, orang tua memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Kerabat yang sebelumnya jarang bertemu dapat berkumpul.
Tetangga juga dapat ikut merasakan kebahagiaan keluarga.
Nilai seperti ini membuat aqiqah memiliki dimensi sosial yang cukup kuat.
Namun, bagian sosial tersebut sebaiknya dipahami sebagai hikmah, bukan sebagai satu-satunya tujuan atau syarat sah aqiqah.
Mengajarkan Rasa Syukur kepada Anak dan Keluarga
Walaupun bayi belum memahami pelaksanaan aqiqah, orang tua dapat menjadikannya sebagai bagian dari pendidikan keluarga.
Anak kelak dapat mengetahui bahwa kelahirannya disambut dengan rasa syukur kepada Allah.
Dari sini, keluarga dapat mengajarkan bahwa nikmat tidak hanya dinikmati, tetapi juga disyukuri.
Pendidikan semacam ini tidak berhenti pada aqiqah. Ia dapat dilanjutkan dengan mengajarkan doa, ibadah, akhlak, dan kepedulian kepada sesama.
Mengajarkan Nilai Berbagi
Aqiqah juga dapat menjadi momentum untuk mengenalkan budaya berbagi dalam keluarga.
Orang tua dapat menjelaskan kepada anak ketika ia sudah memahami bahwa sebagian makanan diberikan kepada orang lain sebagai bentuk kepedulian.
Nilai yang ingin dibangun bukan sekadar “membagikan makanan”, melainkan membiasakan diri untuk bersyukur dan memperhatikan orang lain.
Aqiqah Bukan Sekadar Pesta Kelahiran
Ada perbedaan antara aqiqah sebagai ibadah dan acara keluarga yang menyertainya.
Keluarga boleh mengadakan acara sederhana untuk berkumpul dan makan bersama. Namun, acara tersebut bukan inti dari pensyariatan aqiqah.
Intinya adalah pelaksanaan ibadah aqiqah.
Karena itu, seseorang tidak perlu merasa bahwa aqiqah harus selalu dibuat dalam bentuk pesta besar.
Aqiqah tetap dapat dilaksanakan dengan sederhana sesuai kemampuan.
Mengapa Aqiqah Disunnahkan pada Hari Ketujuh?
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, disebutkan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh, bersamaan dengan mencukur rambut dan memberi nama anak. Rumaysho mencantumkan hadits tersebut dalam pembahasannya mengenai waktu aqiqah.
Rumaysho juga mengutip penjelasan Shiddiq Hasan Khan mengenai hikmah pemilihan hari ketujuh. Pada awal kelahiran, keluarga sedang sibuk merawat ibu dan bayi, sehingga adanya jarak waktu memberi kesempatan untuk mempersiapkan aqiqah.
Jadi, hari ketujuh bukan sekadar angka dalam kalender.
Ada pula hikmah praktis yang dijelaskan oleh ulama berkaitan dengan kondisi keluarga setelah kelahiran.
Apakah Aqiqah Membawa Manfaat Khusus bagi Anak?
Bagian ini perlu dijelaskan dengan hati-hati.
Ada hadits yang menyebutkan:
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya.”
Hadits tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan aqiqah.
Namun, ulama memiliki perbedaan penafsiran mengenai makna “tergadaikan” tersebut.
Rumaysho mengutip penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin bahwa salah satu pemaknaannya berkaitan dengan kemaslahatan anak dalam urusan agama dan dunia.
Karena itu, tidak tepat mengatakan secara sederhana bahwa aqiqah adalah jaminan pasti anak akan mendapatkan kesehatan, kesuksesan, atau perlindungan tertentu.
Hal-hal seperti itu tidak boleh dijadikan klaim pasti tanpa dalil yang jelas.
Apakah Aqiqah Menentukan Kesalehan Anak?
Tidak.
Aqiqah adalah salah satu ibadah yang berkaitan dengan kelahiran anak. Kesalehan seorang anak tidak otomatis ditentukan hanya karena ia telah diaqiqahi.
Pendidikan, keteladanan orang tua, lingkungan, doa, dan berbagai faktor lain juga memiliki peran dalam kehidupan seorang anak.
Karena itu, aqiqah sebaiknya tidak dipahami sebagai ritual yang secara otomatis membuat anak menjadi saleh.
Aqiqah sebagai Pengingat Amanah Orang Tua
Kelahiran anak membawa tanggung jawab baru.
Orang tua bukan hanya mendapatkan kebahagiaan, tetapi juga amanah untuk merawat dan mendidik anak.
Aqiqah dapat menjadi salah satu momentum bagi orang tua untuk menyadari tanggung jawab tersebut.
Setelah aqiqah selesai, tugas orang tua tentu tidak berhenti.
Justru perjalanan mendidik anak baru dimulai.
Aqiqah Mengajarkan bahwa Nikmat Perlu Disyukuri
Salah satu pelajaran sederhana dari aqiqah adalah bahwa nikmat tidak hanya dirasakan, tetapi juga disyukuri.
Kelahiran anak merupakan salah satu nikmat besar.
Melalui aqiqah, orang tua menjalankan amalan yang disyariatkan sekaligus mengungkapkan rasa syukur kepada Allah.
Nilai ini dapat diterapkan pula pada berbagai nikmat lain dalam kehidupan.
Apakah Harus Mengadakan Acara Besar?
Tidak harus.
Aqiqah tidak identik dengan gedung, dekorasi, undangan dalam jumlah besar, atau acara yang mewah.
Keluarga dapat melaksanakannya sesuai kemampuan.
Jika ingin mengadakan acara keluarga, tentu dapat disesuaikan dengan kondisi.
Namun, jangan sampai acara tambahan justru membuat keluarga terbebani secara finansial.
Rumaysho menjelaskan bahwa aqiqah dituntut bagi orang yang mampu, dan apabila orang tua tidak mampu pada waktu pensyariatan, terdapat pembahasan bahwa tuntutan tersebut gugur.
Hikmah Aqiqah dari Sisi Sosial
Jika dirangkum, beberapa nilai sosial yang dapat terlihat dari aqiqah antara lain:
Berbagi Makanan
Hidangan dapat dibagikan kepada orang lain.
Menjalin Silaturahmi
Keluarga dapat berkumpul dengan kerabat dan tetangga.
Berbagi Kebahagiaan
Kelahiran anak menjadi kabar baik yang dapat dirasakan bersama.
Menumbuhkan Kepedulian
Pembagian makanan dapat diarahkan kepada mereka yang membutuhkan.
Nilai-nilai tersebut merupakan hikmah sosial yang dapat menyertai pelaksanaan aqiqah.
Tujuan Aqiqah Tidak Sama dengan Tujuan Acara Syukuran
Keduanya sering dilakukan bersamaan, tetapi tidak identik.
Aqiqah merupakan ibadah yang berkaitan dengan kelahiran anak.
Acara syukuran adalah bentuk pertemuan atau perayaan yang dapat dibuat keluarga.
Seseorang dapat melaksanakan aqiqah tanpa mengadakan acara besar.
Sebaliknya, acara keluarga yang meriah tidak otomatis menjadi aqiqah apabila unsur ibadah aqiqahnya tidak dilaksanakan.
Memahami perbedaan ini membantu keluarga tidak mencampuradukkan ibadah dengan tradisi acara.
Apa yang Bisa Dipelajari Orang Tua dari Aqiqah?
Aqiqah dapat menjadi momentum untuk mengingat beberapa hal:
- Anak merupakan amanah.
- Kelahiran anak merupakan nikmat yang patut disyukuri.
- Ibadah sebaiknya mengikuti tuntunan yang benar.
- Kebahagiaan dapat dibagikan kepada orang lain.
- Kemampuan keluarga perlu dipertimbangkan.
- Tanggung jawab orang tua tidak berhenti setelah aqiqah.
Dengan begitu, makna aqiqah tidak berhenti pada hari pelaksanaannya.
Kesimpulan
Hikmah dan tujuan melaksanakan aqiqah untuk anak dapat dipahami terutama sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur atas nikmat kelahiran anak. Rumaysho menjelaskan aqiqah sebagai sembelihan dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran tersebut.
Selain itu, aqiqah memiliki nilai sosial melalui berbagi makanan, mempererat hubungan dengan keluarga dan tetangga, serta berbagi kebahagiaan.
Aqiqah juga menjadi pengingat bagi orang tua bahwa hadirnya seorang anak membawa amanah dan tanggung jawab besar. Karena itu, makna aqiqah tidak seharusnya berhenti pada penyembelihan atau acara makan bersama, tetapi dapat menjadi awal dari perjalanan orang tua dalam merawat, mendidik, dan mendoakan anak.



